Allah sedang memanggil kita….

Ketika hidup hampa, seakan-akan tidak punya tujuan hidup…Lelah….merasa sendiri..tak ada yang mengingatkan disaat kita melakukan kesalahan, tak ada yang menguatkan dan mengingatkan dalam kebaikan…rutinitas dunia kerja, berjuang…serasa tak ada yang menegur, memperhatikan….sedih….pasti !!

Yakin akan ada getaran hebat dalam hati, dalam diri yang sedang meronta…ingin segera keluar dari kesesakan ini…

Bosan dengan hidup yang dirasa begini2 saja.. Ada kekosongan hati pd setiap kata yang terlontar. Ya Rabb, aku butuh pertolonganMu…meminta petunjukMu agar dapat sedikit mengurangi beban yang dialami.

Kata awal yg meungkin harus diucap “Alhamdulillah alaa kulli haal…..” Alhamdulillah jika diri ini merasa seperti itu, jika diri ini masih peka dengan apa yang terjadi dalam hati. jika diri ini masih bisa merasakan kehampaan dan kekosongan hati.. jika diri ini masih bisa merasakan penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan diri…artinya kita masih hidup, kita masih bisa meronta ingin menemukan kedamaian. Diri ini ingin kembali mendapatkan ketenangan dan ingin kembali pada fitrahNya…

Kehampaan ini merupakan rasa yang Allah ciptakan sebagai salah stu cara Allah untuk memanggil kembali hambaNya….memanggil hambaNya yang semakin jauh denganNya…memanggil hambaNya yang mulai berbelok dari fitrahNya.

Kehampaan ini memberikan ruang pada seorang hamba untuk merasakan rindu….Rindu dengan sang pemilik diri ini.

Hampa menunjukkan diri ini sedang jauh….Coba cermati ibadah-ibadah kita, apakah ibadah yang tadinya kita istiqomahkan kemudian terkikis dengankesibukan dunia.. Cobalah kembali padaNya. Diamlah sejenak dari rutinitas dunia, menghela nafas dan berucap istighfar….kemudian kembali memperbaiki kedekatan kita padaNya.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Alla. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS Ar-Ra’du ayat 28)

Semoga Allah akan terus menarik diri kita untuk kembali padaNya dengan cara yang indah. Mencoba peka akan setiap yang terjadi pada diri ini, mencari hikmah dari tiap episode hidup….Yakin setiap yg terjadi bukan suatu “kebetulan” semua sudah Allah atur..:)

Semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan dan keberkahan untuk kita semua. Aamiin

 

 

~Mohon Kemudahan~

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul khazana idaa syi’ta sahlan

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang telah Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesukaran sebagai kemudahan.”

Hikmah setiap masalah pasti terjadi. Berusaha merelakan jiwa untuk meridhoi setiap kondisi yang dihadapi. Karena selalu yakin setelah kehausan pasti akan ada air, setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Bersabar, berdoa dan menantikan jalan keluar dari Allah SWT.

Sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran. Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitanmenghapuskan dosa…kesulitan memperbanyak pahala.

 

Amarah

Saat amarah datang,
Kejernihan rasa dan logika seakan sirna,
Saat amarah datang,
Terasa diri merasa paling benar,
Saat amarah datang,
malaikat pergi dan setan yg datang,
Saat amarah datang,
kata-kata jadi sumpah serapah bukan lagi doa puja.

Saat amarah datang, semua akan terasa berat dan menyesakkan,
Maka lebih baik diri diamlah sejenak,
Lalu memohon ampun dan berdoalah,
pasti akan terasa ringan dan tenang…
Ya اَللّهُ cukup x ini saja merasakan tamparan dahsyat dari seorang pendamping. Hingga tulang rahang sakit, tidak bisa makan dan mengunyah………………….. Ya Rabb, berikan kesabaran yang tiada batas. Lindungi aku dari mendzolimi dan di dzolimi :(

Mencintai Ketidaksempurnaan

Ketika diri bertanya apa gerangan yang membuat kita tertarik dengan seseorang, memutuskan untuk mencintainya dan rela berjuang bersama dalam suka dan duka kemudian dengan kerelaan hati memilihnya untuk menjadi pendamping hidup kita ?

Sedangkan di sudut hati terdalam kita mengakui masih banyak yang lain yang lebih baik dari dirinya…

Tapi mengapa kita memutuskan bertahan dan memegang komitmen untuk setia mendampinginya ?

Sungguh… Mencari seseorang yang sempurna sesuai ukuran hati itu sulit.. Bagai mencari mutiara di dasar samudra… Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami…

Mengapa kita terus mencari seorang yang sempurna ? Sedangkan diri kita pun tak sempurna… Masih begitu banyak hal yang harus dibenahi….

Sudah saatnya diri kita menundukkan hati… Mengubah haluan hidup dan cara berpikir kita dengan bijak….

Kita hadir di dunia ini bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai, tetapi belajar mencintai seseorang yang menjadi pasangan hidup kita dengan cara yang sempurna…

Andaikan pasangan kita belum baik menurut ukuran hati kita belajarlah bersama, ajak dia agar bisa berbuat lebih baik….

Andaikan pasangan kita belum nampak bersinar di mata kita.. asahlah… tuntun dan sinarilah pasangan kita dengan iman, ilmu dan akhlaq mulia sehingga akan terbias cahayanya yang benderang.

Subhanallah..

Orang bijak berkata, “PERNIKAHAN ADALAH SEPERTI SEKOLAH CINTA…

Kita bisa belajar bersama, saling berbagi ilmu dan pengetahuan, saling menumbuhkan cinta dan kasih sayang agar bisa berkembang bersama pasangan kita.

Jadi.. Mulai sekarang bagi yang belum memiliki pasangan hidup, termasuk saya pribadi, mari kita kaji diri kita, perbaiki kualitas diri kita…. ikhlaskan hati.. dan berserah diri kepada Allah agar kita siap dan rela menerima pasangan yang Allah pilihkan untuk kita…. karena apapun keadaanya itulah yang terbaik menurut Allah..

Subhannallah…
Sungguh bahagia insan yang telah menemukan cinta sejatinya, mereka ibarat tasbih & benang pengikatnya yang terajut menjadi satu untaian yang selalu disentuh satu demi satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta kepada Rabb-Nya..

*Harusnya begitu ^^

~Suami Istri Janganlah saling Menghina~

Menghina adalah menyebut aib, cacat, keburukan dan kejelakan orang lain di depannya, di belakangnya mengghibah, bila aib tersebut tidak ada padanya maka itu memfitnah.

Suami atau istri Anda adalah orang yang paling dekat dengan Anda, terlepas bagaimana dulu Anda menikahinya, pilihan sendiri atau dipilihkan, suka rela atau terpaksa, sebagaimana manusia tidak ada suami atau istri sempurna, dia pasti memiliki kekurangan, termasuk diri Anda juga sama, karena itu jangan menghinanya dengan kekurangannya itu, karena dia juga bisa melakukan hal yang sama, apa jadinya bila suami istri saling menghina?

Kata orang, luka di tubuh bisa diobati, tetapi luka di hati sulit dicari kesembuhannya. Benar, karena hati ibarat kaca, jika ia pecah maka tidak bisa ditambal. Menghina dan mencela melukai hati, sekali pun orang yang dihina dan dicela karena sesuatu memang demikian, namun dia akan tetap merasa sakit dan hal itu bukan merupakan pembenaran bagi orang lain untuk mencela dan menghinanya.

Ketika hinaan dan celaan datang dari orang yang ada di samping kita, orang yang paling kita sayangi, suami atau istri. Sudah barang tentu hal ini akan lebih menyakitkan hati, rasa kecewa yang dipikul pun lebih berat. Bayangkan orang yang kita sayangi dan kita cintai justru malah berani menghina dan mencela. Sakit bukan? Kalau sudah demikian lalu bagaimana? Apa pun, penulis yakin hal ini mengganggu kebahagiaan Anda.
Celaan dan hinaan suami terhadap istri ” Ga punya Otak, hati kamu kotor bersihin dulu tuh….., Kalo ngomong sama anjing percuma gonggong terus =)) dasar anjing =)) =))нαнαнα =))=)) ђaђaђa =)) =)) hαhαhα=)) =))”

Si korban hinaan dan celaan sdh pasti sakit, perih, tersayat. Harusnya tau sbg suami bahwa mencela atau menghina merupakan perilaku tercela dan terhina, tidak ada manusia termasuk istri atau suami Anda bahkan Anda sendiri yang merasa nyaman dicela dan dihina, jika demikian maka Anda tidak patut melakukannya, lebih-lebih kepada orang yang selalu mendampingi Anda. Satu hal yang jarang disadari oleh seorang pencela atau penghina, bahwa celaan dan hinaan yang berasal darinya merupakan indikasi dari apa yang bercokol di dalam jiwanya. Mencela dan menghina bersumber dari jiwa yang hina dan cela, layaknya air keruh yang berawal dari mata air yang keruh pula. Kalau sebuah jiwa itu bersih maka yang keluar darinya adalah kata-kata dan sikap yang bersih, ibarat mata air yang jernih mengalirkan air yang bening dan menyejukkan. Dari sini maka orang yang mencela dan menghina, lebih-lebih jika celaan dan hinaan dialamatkan kepada suami atau istri, lebih berhak dan lebih layak mendapatkan hinaan dan celaan tersebut, dirinya lebih patut untuk dia cela, karena dengan mencela menunjukkan bahwa dirinya busuk.

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala manakala Dia melarang kaum muslimin, termasuk kaum muslimat, saling mengejek di antara mereka. Dia berfirman, artinya,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita-wanita yang lain, karena bisa jadi wanita-wanita yang diperolok-olok itu lebih baik daripada wanita-wanita yang memperolok-olok.” (QS. al-Hujurat: 11).

Dalam ayat di atas Allah menyatakan bahwa pihak yang diejek bisa jadi lebih baik, ini menunjukkan bahwa dengan mengejek, seseorang telah meletakkan dirinya pada posisi yang lebih rendah daripada orang yang dia ejek. Kalau suami menghina atau mencela istri, berarti secara tidak langsung dia memposisikan diri lebih rendah, konsekuensinya adalah bahwa dirinyalah yang lebih berhak mendapatkan hinaan yang dia katakan itu. Kata orang, ketika kamu menunjuk kepada seseorang, maka satu jari mengarah kepadanya dan empat jari mengarah kepada dirimu sendiri.

Saat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apa hak istri salah seorang di antara kita atasnya?” Beliau menjawab, “…Wa la tuqabbih… (HR. oleh Abu Dawud, an-Nasa`i, Ibnu Majah dan Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban). Maksudnya jangan berkata-kata buruk kepadanya, jangan mencacinya, menghinanya dan berkata, “Semoga Allah memburukkanmu.”

Pertimbangan lain, bukanlah saat pertama menikah Anda tahu minimal secara global bahwa calon istri atau suami Anda memiliki kekurangan? Secara umum jawaban dari pertanyaan ini adalah ya, bila demikian lalu mengapa sekarang kekurangan tersebut menjadi bahan hinaan dan olok-olokan padahal sebelumnya sudah diketahui? Kehidupan rumah tangga yang baik adalah hubungan yang saling menghargai dan hal ini tidak terwujud manakala Anda justru menghina pasangan Anda sendiri. Kalau suami atau istri sendiri saja direndahkan, lalu bagaimana dengan orang lain. Wallahu a’lam. 
(Ustadz Izzudin Karimi, Lc).

 

◦(˘_˘”)◦‎​

Bukan aku ingin menuntut dengan berbagai hal diluar kemampuan dan kesanggupanmu….Aku hanya ingin kau tau….aku seorang wanita yang terkadang pura” kuat tapi hati perih, sakit, ada timbunan luka yang kau torehkan….
Aku berusaha kuat, insya allah kesabaranku tak berbatas…& Allah tak akan menyia-nyiakan kesabaranku. Aku yakin semuanya akan berubah…

Sayaang…
Jadilah teladan yang baik bagi keluarga Sempatkanlah untuk menjadi imam dalam sholat,Hiasilah rumah kita dengan ketakwaan kepada Allah,Amalkan sunnah Rasul sekuat yang kau mampu,Bimbinglah anak-anak kita,menjadi pribadi Muslim yang cerdas dan berakhlak mulia,
kau suamiku …Bergaullah dengan ma’ruf terhadapku,Jadilah engkau suami yang penyayang dan sabar,Janganlah kau bertindak aniaya terhadapku.